Kumpulan Puisi Kehidupan

Berikut di bawah ini merupakan puisi kehidupan dengan berbagai tema, seperti puisi kehidupan islami, puisi kehidupan sedih, puisi kehidupan remaja, hingga puisi kehidupan singkat.

Tentu saja dari puisi-puisi tentang kehidupan tersebut kamu akan mendapatkan berbagai pelajaran kehidupan. Puisi itu bukan hanya sekedar sastra, akan tetapi ada banyak hal di dalamnya.

Selamat menyimak dan meresapi kumpulan-kumpulan puisi kehidupan di bawah ini.

#1. Jantung di rerumputan – Inung Imtihani

dari mana hidup ini bermula
ia berjalan tanpa awalan
dan berakhir semena-mena tanpa pengumuman
beberapa waktu dalam hidup sering kuhabiskan memandang rumput
mencari jantung yang belum kutemukan sejak lahir
berapa detik lagi
suaranya terdengar, tapi apa benar ada?
kuharap waktu bisa disimpan dalam toples
agar kalau lapar aku bisa menelannya
sebagai cemilan anti tua
agar aku punya tenaga
menyembunyikan dosa-dosa
dan merekatkan kertas amal yang kusobek ketika mabuk

Tuhan pembuat peta yang baik sampai
tak tampak di mana kutub nyawa
sementara aku berlomba dengan uban
memburu jantung yang jatuh di rerumputan

waktu…
perlahan,
pasti…

tanpa disadari
menjelma serupa Raqib dan ‘Atid
atau pembantunya, mungkin

mengiring manusia tanpa suara
menghidupi, meski
tanpa detak jantung
tanpa desah nafas

terkadang menyesakkan
atau melapangkan…
terkadang melukis senyum
atau menggores kesedihan…

Tuhan sang pemilik nyawa berpisah dengannya
waktu…
yang perlahan mengiringi
gemetar kala Izrail datang
mengabarkan bahwa

tangisnya sia-sia
bahkan sebelum ia sempat menuliskan sebuah pesan
atau sekedar menawar…
“tunggulah Izrail, dia belum selesai menulis…”

waktu…
tanpa jarum panjang-pendek dan detak detik
mengakhiri titah Tuhan, kembali ke peraduannya

Tuhan tersenyum,
“tak perlu kau risau. Aku telah menitipkan amal dan do’a-do’a
seribu malaikat untuknya.”

[Padang, 23 September 2010]
Mengenang seorang sahabat maya (*batas umur manusia tak ada
yang tahu)


Puisi di atas berbicara tentang kehidupan yang megah, Bahwa Tuhan itu sempurna dan sebaik-sebaiknya pencipta. Manusia tidak akan tahu kapan ia tutup usia dan meninggalkan dunia ini.

#2. Dari lima Sampai enam tiga-ku – Deris Afriani

lima, aku belum bisa
sepuluh, aku belajar, mulai mengenal
lima belas, aku membangkang
dua puluh, aku lupa, melupa-kan
dua lima, aku terlena
tiga puluh, aku menghitam
lima puluh, aku sepuh
enam puluh, makin rapuh
enam puluh dua tambah satu, aku telah membatu
gelap temanku, sempit tempatku, panas udaraku, belatung
menggerogotiku,
merah api sekitarku, An-Nar Jahanam rumah abadiku,
oh, akan demikian kah aku?


Dari semua puisi kehidupan yang terdapat pada artikel ini, puisi satu ini memang sangat unik dan mudah untuk dipahami. Dimana secara garis besar bercerita tentang perjalanan kehidupan manusia di muka bumi.

#3. Gerimis Hati – Yazmin Aisyah

AWAN… langitku rinai
aku terpaku menyadari detik detik bermetamorfosis menjadi menit
lalu menguap menjadi jam, hari, bulan, tahun
padahal aku masih berdiri disini, sendiri, mengemas gerimis yang
kau tinggalkan
betapa cepat waktu menyublim
usia yang kian membengkak, lalu mengempis ketika tertusuk jarum
berkarat
berdarah

aku ingin berteriak pada waktu
sekali saja berhenti dinafas yang dulu, apa mungkin?
jika saja ada lorong tempatku kembali
aku ingin masa itu datang lagi
kala tubuh dan hati bersih tak bernoda
putih… hanya putih…
lalu menulisinya dengan tinta yang seluruhnya emas

WAKTU…
Jika kau punya sisa yang tak dipakai orang lain
berikanlah padaku…!!!


Menurut saya pribadi, barangkali puisi kehidupan satu ini memiliki keindahan kata kata yang luar biasa. Sangat enak untuk dibaca dan dipahami.

#4. Kehabisan Waktu – Ida Raihan

waktu…
bukan engkau yang tak tepat datang
tapi aku mengulur keterlambatan
lima menit lagi, aku suka menawar
lupa tugas dan kewajiban
terhanyut tawaran indah permainan
hingga aku terlambat capai tujuan.

engkau tak sudi menanti
meski telah kuwanti-wanti
karena, engkau bukanlah asmara
yang mudah tergoda dengan seulas senyum yang menawan.
engkau bukan manusia setia sebab cinta.
tak sudi menunggu walau lima menit saja

aku tak jadi pemenang kehidupan.
saat merayap pada titian
tersentak hati tika menyadari
aku sudah di ujung lenyapnya mentari.
semakin menyesali akan cita-cita yang harus digenapi
saat usia bukan lagi perawan
aku kehabisan jatahku.waktu…

#5. Pasung – Rurin kurniati

tak peduli pada roda-roda masa yang berputar
dalam kelam menatap nanar
pada titik cahaya yang muncul berpendar
mata sayu -nya yang tak berdosa
menggambarkan derita tiada tara
wajah putih pucat tak berdaya
lukisan siksa nan merana

pedih
suara raungannya yang tak henti
memberitakan masa remaja yang amat nyeri
siapa peduli?
dirimukah, yang masih bermain-main dengan hari?

schizofrenia
nama manis untuk ketidakwarasannya
menghadapi sisa masa hidup dalam pasung dunia
17 Tahun usianya
siapa yang peduli?
dirimukah,Yang masih bersikap manja terlena dunia fana ?
aku berbisik lirih pada Tuhan meminta hidup waras tak terpasung
sia-sia untuk berbuat baik sepenuh usia.

#6. Almanak Keluarga – Iqbal H. Saputra

kau tahu
aku masih menyimpan almanak yang dulu tergeletak
di dinding ruang tamu
sebuah almanak berwarna biru, bergambar wajah Ayah jua Ibu
almanak yang hampir setiap tanggal tua mereka lingkari dengan
pena bertinta merah

o, di tanah pengasingan ini
aku terlalu nakal untuk mengingat peristiwa itu
Pikiranku terlalu liar untuk menerka-nerka hari depan
padahal aku sadar
kalau hari lalu masih menagih-nagih sisa pembayaran yang belum
sempat terlunaskan

ayah, Ibu
tenanglah kalian di sana
ananda janjikan
hutang itu akan terbayar setelah Ananda selesai mengganti rumah
kalian
dari kayu menjadi batu

#7. Aku kini – Mieny Angel

cermin,
kutatap bayanganku
perlahan kuraba wajah ini

kini ku telah senja
ku bukanlah kuncup mawar yang merekah lagi
aku tak ranum lagi

gadis kecil itu telah beranjak
tua keriput,

dalam bayang cermin

berputar jam dinding
mengajakku bergelut disenjaku

sisa menit ku ingin,
………bertaubat

kini ku bukan gadis belia lagi
semakin dekat ku pada pangkuan-Nya


Memang benar apa kata puisi kehidupan di atas waktu terus berjalan sehingga terkadang kita lupa akan banyak hal.

#8. Penanggalan Kelam – Okti Li

kukuruyuuuuk!
tik… tak… tik… tak…
kupandang detaknya tak lelah jalan mendampingi keserakahan akal
kontras dengan lantunan adzan di surau memanggil persiapkan
bekal

Wasior, Mentawai, Merapi menjadi ciri keanggunan dalam
kodratnya mencatatkan peradaban
cermin abadi tempat kita kembali
berapa batangpun lilin yang sudah melepuh tertiup

kemarin luka kakek sembuh, sekarang ku basuh lukaku dan esok
mungkin tumbuh luka baru anak cucu
lara bersemayam dibalik kelam
uban tanpa undangan bermunculan
sebelum mencapai batas Nya gerak takkan lelah melangkah.

#8. Pepasir Kehidupan – Jazim Naira Chand

terbalut darah
terkapar lemah mencecap
senyum bertakbir mengecup
selamat datang jiwa

tertatih aku mengeja langkah
tanpa suara; menggores a ba ta tsa
tanpa nada; melantunkan syair bocah
tanpa arti; membaca alam

terlupa aku; pada langkah pertama
tersedak aku; pada suapan pertama
terpukau aku; pada jamuan pertama
terlena aku; pada perjamuan malam pertama

berjalan tanpa bintang
tersesat di padang gembala
mentari mencium tubuh dan jiwaku yang berkarat
mencoba mencecap; tapi pekat menyergap
duniaku berakhir sunyibumi memelukku, pepasir mencumbuku
ketika Munkar Nakir bertanya, aku gagap;
:………..; tanyakan pada insan yang mengecup jiwaku

#9. Ramadhan – Dian Soeto

sesak menatap gerak
kaki-kaki menelikung hawa-hawa rengsa
lalu langit bersyorban syurga
aroma cinta membelai bumi
jatuh sujud
berpacu dzikir
menggenangi hari pertama mata Ramadhan
ah, lagi-lagi aku terkapar dalam samar-samar takbir dan salam

#10. Setetes risalah untuk bidadari langit – Rusmin nuryadin

ingin aku berbicara dengan bidadari kecil langit
kemudian membahas tentang perjalanan umurnya,
ada yang begitu mengaggumkan, saudari.

telah tertutup rasa-rasa malu pada
titik-titik lenggokan tubuhnya
dengan sehalai air mata bening yang tak terbungkus disetiap
nadinya

telah mereka gerogoti puing-puing
yang telah lama anak adam anut
dari jiwa iman yang tebal

namun saudariku,
mengapa engkau tak ingat bidadari sesungguhnya

wahai risalah langit
titiplah salam aku pada bidadari-bidadari itu
tak usah jemu engkau kabarkan bahwa bagiku mereka “lambang
kemuliaan

#11. Untaian kehidupan – Zahratunnisa

disaat tangis memecah sunyi
memulai bakti kepada Ilahi
tiada keresahan merajai hati
menjalani hidup dikemudian hari
begitu jiwa telah merekah
memberikan warna baru dalam kehidupan
akan menanggung perbuatan yang telah tercipta

raga telah terbilang senja
pesona tak lagi terpancar indah
tak bercahaya tak jua membekas
tak lagi indah dalam berkias
tak lagi lantang dalam membela

derap langkah tak lagi berarah
meninggalkan jejak jejak kecil
penuh perjuangan merangkai mimpi
putih telah pergi
berganti hitam menjelma merajai diri
menutupi jiwa yang sunyi
berharap pengabdian diri
menjelma sebagai bidadari dalam surga Ilahi

#12. Kuku – Khoer Jurzani

mari berhitung adikku
tentang kukukuku
yang akan tanggal
menjadi kupukupu
entah besok atau malam nanti
kita tidak tahu
kukukuku tibatiba hilang
dari jemari yang paling kau sayang
jemari yang sering menjamah wajah
seorang terkasih

sekarang kita sudah dewasa adikku
sudah bisa membedakan mana cinta
dan mana yang dapat membuat mata
menjadi luka

dunia itu sebenarnya adalah hutan belantara dik
banyak hewan melata mencari mangsa
mencakar hatimu
dengan kuku mereka yang runcing

usia adikku,
sama dengan kukuhanya saja
usia tidak dapat kita potong sembarangan
seperti saat kau memotong kue tart terakhir
di pembaringan beraroma rumput liar

#13. Mengingat Masa – Muhimmah

setiap aku pandang
jarum jam berlarian
aku kehilangan!
huruf demi huruf
kata demi kata
pada naskah panjang yang harus kuselesaikan
entah kapan

aku ingin menyimpan
lembaran usang yang tertanam
sejak kali pertama aku hadir
dalam kolaborasi cerita anak manusia
masa berputar
gugus berpendar
di hatiku
di hatimu
di hatinya

seandainya masih kita teruskan
adegan percintaan jaman purba
ilustrasi kekanakan tentang dunia atau bayangan sajak-sajak yang
hilang?mungkin,esok menjelang tanpa kata

#14. Aku, Hidupku, dan Jalanku – Kawako Tami

hidupku..
puisi terindah dari Yang Maha Kuasa..
kau lihat setiap detiknya..
adalah larik dan rima yang berbeda..

hidupku…
simfoni menakjubkan dari Sang Pencipta
setiap hela nafas
adalah nada dan ritme perjuangan..

aku..
roman terbaik..
dari Sang Maha Sempurna
yang tak seorang penulispun
mampu menuliskannya

aku adalah puisi,
simfoni
kisah
jalan berliku yang penuh tawa dan air mata

Jalanku
rekaman sejarah
yang mengalahkan perang dunia dan baratayudha..
yang ditulis oleh tinta tak kasat mata

karena aku..
hadiah dari Tuhanku..
untuk dunia dan alam semesta
makhluk kecil yang sangat sederhana
yang tak berhenti bermimpi untuk sempurna
sebagai manusia..

#15. Kala Senja Menyapaku – Elasofa

di bilangan waktu usia senjaku
di kilapan sutra helaian rambutku yg abu-abu
yang akhirnya memutih menajamkan ketuaanku
di ukiran gurat-gurat halus kulit ariku
di kaburnya untaian memori yang hilang satu demi satu
di serak paraunya nada-nada yg mengalir dari bibir perotku
dan pada terseoknya kaki yang gemetar dan kaku

adaku kini…
seakan menyentakkanku pada sang waktu
yang telah mencipta ratusan kisah suka ataupun pilu
yang melaju…
tak mungkin sekejap pun mau
berhenti dan mundur karena sesuatu

adaku ini…
menerpurukkanku pada detik detik kesadaranku
pada seribu sesalku
pada lengahku di waktu waktu lalu

adaku kini…dengan tubuh reot dan sisa umurku
aku bersujud pada-Mu

Kata Bijake

Kumpulan Berbagai Kata Bijak, Inspirasi, Motivasi, Ucapan, Romantis, Sedih, Bahagia dan Lainya.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

© 2022 Katabijake - Theme by WPEnjoy · Powered by WordPress